Cuan LokalKebijakan & DampakPotensi Daerah

Badan Karantina Indonesia Tinjau Persiapan Ekspor Durian ke Tiongkok

×

Badan Karantina Indonesia Tinjau Persiapan Ekspor Durian ke Tiongkok

Share this article
Kepala Badan Karantina Indonesia Sahat M Panggabean (keempat kanan) saat kunjungan persiapan ekspor durian Indonesia ke Tiongkok di Palu, Rabu. (15/4/2026). (©ANTARA/ Kristina Natalia)
Kepala Badan Karantina Indonesia Sahat M Panggabean (keempat kanan) saat kunjungan persiapan ekspor durian Indonesia ke Tiongkok di Palu, Rabu. (15/4/2026). (©ANTARA/ Kristina Natalia)

PALU, bisnisSULTENG | Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat M. Panggabean, melakukan kunjungan persiapan ekspor durian ke Tiongkok di PT Duco Food Indonesia, Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Rabu (15/4/2026). Dalam kunjungan tersebut, Sahat menyebut Sulteng merupakan daerah dengan volume ekspor durian terbanyak di Indonesia.

Pemerintah menargetkan nilai ekspor durian dari Sulteng pada tahun 2026 mampu menembus angka Rp750 miliar dengan total volume mencapai 8.100 ton.

Capaian dan Rencana Ekspor

Berdasarkan data yang dipaparkan, performa ekspor durian Sulteng menunjukkan tren positif di awal tahun 2026. Januari – 12 April 2026: Nilai ekspor telah mencapai Rp377,5 miliar dengan volume 4.077 ton. Pelepasan ekspor yang dijadwalkan 16 April 2026 senilai Rp42,5 miliar dengan volume 459 ton.

“Kami harap meningkatnya nilai ekspor akan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat, khususnya para petani,” ujar Sahat.

Potensi Pasar Tiongkok dan Produksi Lokal

Sahat menjelaskan bahwa permintaan durian di Tiongkok sangat besar, mencapai USD 8 miliar (sekitar Rp137 triliun) per tahun. Indonesia optimistis dapat merebut 5-10 persen pangsa pasar tersebut dengan mengandalkan varietas unggulan seperti Bawor, Super Tembaga, dan Namlung.

Potensi ini didukung oleh ketersediaan lahan produktif di Sulteng. Hingga Januari 2025, tercatat ada sekitar 3,7 juta pohon durian di Sulteng, dengan 1,2 juta di antaranya merupakan pohon produktif. Sentra produksi terbesar berada di Kabupaten Poso dan Parigi Moutong dengan total potensi produksi mencapai 95.140 ton.

Efisiensi Logistik dan Keuntungan Petani

Ekspor langsung dari Sulteng memberikan keuntungan signifikan dari sisi operasional dan ekonomi, antara lain: Durasi logistik berkurang drastis dari 56 hari menjadi hanya 22-26 hari; memangkas biaya logistik hingga dua kali lipat; dan harga jual durian Indonesia di Tiongkok tercatat 10-20 persen lebih tinggi dibandingkan produk asal Thailand untuk setiap grade buahnya.

Langkah ini diharapkan memperkuat posisi durian lokal di pasar internasional sekaligus meningkatkan harga beli di tingkat petani secara berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *